Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Thursday, March 6, 2025

Konsep Kepasrahan kepada Allah (Tawakal)

Kepasrahan kepada Allah (tawakal) adalah keyakinan total bahwa Allah adalah satu-satunya yang memiliki kendali penuh atas hasil dari setiap usaha manusia. Dalam Islam, tawakal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi menggabungkan ikhtiar (usaha) dengan keyakinan kepada Allah. Ini adalah prinsip yang melibatkan iman, usaha, doa, dan penerimaan terhadap hasil.

1. Definisi dan Dalil

Tawakkul berasal dari kata wakala, yang berarti mempercayakan sesuatu kepada pihak lain. Dalam konteks Islam, tawakkul berarti mempercayakan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha. Dalil-dalil yang mendukung konsep ini meliputi:

  • Al-Qur'an:
    "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya." (QS. At-Talaq: 3).
    Ayat ini menegaskan bahwa kepasrahan kepada Allah membawa keberkahan dan kecukupan dalam hidup.

  • Hadis Rasulullah ﷺ:
    "Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).

2. Elemen Utama Tawakkul

Kepasrahan kepada Allah melibatkan tiga elemen utama:

  • Ikhtiar (Usaha): Melakukan upaya maksimal sesuai kemampuan manusia.
  • Doa (Munajat): Meminta bantuan Allah untuk memberikan hasil terbaik.
  • Ridha (Penerimaan): Menerima hasil apa pun dengan lapang dada, yakin bahwa itu adalah yang terbaik dari Allah.

Hubungan Kepasrahan dengan Aspek Kehidupan

1. Aspek Spiritual

Kepasrahan memperkuat hubungan manusia dengan Allah, membangun keyakinan bahwa Allah adalah pengatur segala urusan. Hal ini menghasilkan ketenangan batin dan keimanan yang kokoh. Dalam praktiknya:

  • Salat: Menjadi momen untuk menyerahkan semua masalah kepada Allah.
  • Zikir: Membantu menjaga hati tetap tenang dan fokus dalam kepasrahan.
  • Doa: Menjadi sarana komunikasi langsung dengan Allah untuk memohon kekuatan dan petunjuk.

2. Aspek Psikologis

Tawakkul membantu mengurangi stres, kecemasan, dan overthinking dengan menyadarkan manusia bahwa ada hal-hal di luar kendali yang hanya bisa diserahkan kepada Allah.

  • Ketahanan mental: Membantu menghadapi tantangan tanpa mudah putus asa.
  • Stabilitas emosi: Memberikan ketenangan ketika hasil tidak sesuai harapan.

3. Aspek Produktivitas

Kepasrahan kepada Allah mendorong seseorang untuk melakukan usaha terbaik, dengan keyakinan bahwa hasilnya adalah bagian dari takdir Allah. Ini melahirkan:

  • Etos kerja tinggi: Karena usaha dilihat sebagai bentuk ibadah.
  • Disiplin waktu: Contoh dari salat lima waktu, yang mengajarkan manajemen waktu.
  • Inovasi: Tawakkul mendorong keberanian untuk mencoba hal baru tanpa takut gagal.

4. Aspek Hubungan Sosial

Tawakkul mengajarkan sikap optimisme, prasangka baik, dan empati dalam interaksi sosial:

  • Husnuzan: Berprasangka baik terhadap Allah dan orang lain.
  • Toleransi: Menghormati perbedaan karena percaya Allah menciptakan keberagaman untuk hikmah.
  • Kepemimpinan: Seorang pemimpin yang bertawakkul memiliki visi yang kuat dan mampu menginspirasi.

5. Aspek Ekonomi

Dalam bekerja atau berbisnis, tawakkul mengajarkan:

  • Kejujuran: Meyakini bahwa rezeki telah diatur Allah, sehingga tidak ada kebutuhan untuk curang.
  • Kerja keras: Usaha maksimal dengan keyakinan bahwa hasil adalah hak Allah.
  • Optimisme: Tetap bersemangat meski menghadapi kegagalan.

6. Aspek Kesehatan

Tawakkul juga membantu menjaga kesehatan fisik dan mental:

  • Stres berkurang: Dengan menyerahkan hal-hal di luar kendali kepada Allah.
  • Kebiasaan sehat: Karena tubuh dianggap sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga.

Kesimpulan

Kepasrahan kepada Allah adalah konsep yang mengintegrasikan iman dan usaha dalam semua aspek kehidupan. Dengan tawakkul, seorang Muslim tidak hanya mencapai kedamaian batin, tetapi juga menjadi individu yang produktif, optimis, dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini melibatkan keseimbangan antara usaha maksimal, doa yang tulus, dan penerimaan penuh terhadap hasil yang ditentukan oleh Allah. Kepasrahan sejati bukanlah sikap pasif, melainkan bentuk aktivitas spiritual dan mental yang memandu manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hubungan Kepasrahan Diri Dengan Prodktivitas Seorang Muslim

 Ya, ada hubungan yang erat antara kepasrahan kepada Allah (tawakkul) dan produktivitas seorang Muslim dalam semua aspek kehidupan. Kepasrahan yang benar tidak berarti sikap pasif, melainkan memadukan keimanan yang mendalam kepada Allah dengan usaha sungguh-sungguh. Berikut adalah bagaimana hubungan ini terwujud:

1. Motivasi dari Keimanan

  • Kepasrahan kepada Allah memberikan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi-Nya. Keyakinan ini mendorong seorang Muslim untuk bekerja lebih keras, karena ia tahu bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah, tetapi upaya adalah tanggung jawabnya.
  • Dalam Islam, ada konsep "ikhtiar" (usaha) yang harus dilakukan bersamaan dengan tawakkul. Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah." (HR. Tirmidzi).
    Ini menegaskan bahwa produktivitas dan usaha harus menyertai kepasrahan.

2. Mengurangi Kecemasan dan Overthinking

  • Kepasrahan membantu mengurangi kecemasan tentang hal-hal yang di luar kendali manusia. Ketika seseorang yakin bahwa Allah mengatur segala sesuatu dengan hikmah-Nya, ia menjadi lebih fokus pada tugas-tugas yang ada, tanpa terganggu oleh ketakutan akan kegagalan atau hal-hal yang belum terjadi.
  • Mental yang tenang dan fokus ini meningkatkan produktivitas dalam bekerja, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain.

3. Orientasi pada Tujuan Akhir

  • Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan seorang Muslim harus diarahkan untuk mencapai keridhaan Allah. Dengan tujuan yang jelas ini, produktivitas seorang Muslim menjadi lebih terarah, tidak hanya untuk dunia tetapi juga untuk akhirat. Misalnya, seseorang yang bekerja untuk mencari nafkah halal akan lebih produktif karena ia melihat pekerjaannya sebagai ibadah.

4. Pengelolaan Waktu dan Prioritas

  • Kepasrahan mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik. Seorang Muslim yang paham bahwa waktu adalah amanah akan lebih produktif dalam menjalankan tugas harian, karena ia tahu bahwa hidup ini terbatas dan setiap detiknya harus dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat.
  • Contohnya, seorang Muslim yang menjalankan salat lima waktu secara teratur akan terbiasa dengan disiplin waktu, yang berdampak pada manajemen waktunya dalam pekerjaan atau aktivitas lain.

5. Kesabaran dalam Proses

  • Tawakkul melibatkan sikap sabar dan tidak putus asa ketika menghadapi tantangan atau hambatan. Sikap ini membuat seorang Muslim tetap produktif meskipun menghadapi kesulitan, karena ia percaya bahwa Allah akan memberi jalan keluar selama ia terus berusaha.

6. Etika Kerja yang Tinggi

  • Kepasrahan kepada Allah juga membangun kesadaran akan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan etika kerja. Seorang Muslim yang produktif tidak hanya bekerja keras tetapi juga menjaga integritasnya, karena ia sadar bahwa Allah mengawasi segala perbuatannya.

Kesimpulan

Kepasrahan kepada Allah bukanlah sikap menyerah, melainkan landasan spiritual yang menguatkan mental, memberikan arah yang jelas, dan mendorong usaha maksimal dalam setiap aspek kehidupan. Dengan tawakkul, seorang Muslim dapat mencapai produktivitas yang seimbang antara dunia dan akhirat.

NASIHAT TENTANG DUNIA DAN AKHIRAT

Bagian 1: Pujian kepada Allah dan Pentingnya Bersyukur

  1. Awal yang Diberkahi

    • Dimulai dengan memuji Allah: Bismillahirrahmanirrahim dan Alhamdulillah Rabbil Alamin.
    • Menyadari bahwa semua nikmat, seperti nyawa, kesehatan, dan kesempatan mendekat kepada-Nya, berasal dari Allah.
    • Betapa pentingnya bersyukur atas nikmat ini karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.
  2. Masjid sebagai Rumah Allah

    • Masjid adalah rumah Allah, tempat manusia bisa sujud, rukuk, dan mendekat kepada-Nya.
    • Banyak orang yang melupakan nikmat ini, lebih memilih bersyukur atas hal duniawi seperti mobil mewah atau pakaian mahal.
    • Menjadi tamu Allah di masjid adalah kehormatan besar yang sering dilupakan oleh manusia.
  3. Bahaya Lupa Bersyukur

    • Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: jika seseorang tidak bersyukur, ia akan dikenakan azab yang pedih.
    • Azab paling berat di dunia adalah hati yang keras, yaitu hati yang tidak mampu bersyukur dan menikmati nikmat Allah.

Bagian 2: Keutamaan Bulan Muharram

  1. Amal Saleh di Bulan Haram

    • Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan, salah satu bulan haram yang pahalanya dilipatgandakan dan dosanya juga diperbesar.
    • Muharram menjadi momen untuk memperbaiki diri dan memulai tahun baru hijriah dengan langkah yang baik.
  2. Start yang Baik dalam Kehidupan

    • Seperti dalam perlombaan, awal yang baik menentukan perjalanan berikutnya.
    • Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mengoptimalkan waktu pagi, karena pagi adalah awal dari keberkahan hari.
    • Zikir pagi dan petang menjadi rutinitas yang direkomendasikan untuk menjaga hubungan dengan Allah.
  3. Pola Hidup yang Dianjurkan

    • Rasulullah melarang tidur antara Maghrib dan Isya, karena awal malam adalah waktu yang sangat berharga.
    • Tidur siang dianjurkan untuk menjaga stamina dalam beribadah malam.
    • Mengoptimalkan waktu pagi, sebagaimana hadis: “Umatku diberkahi di waktu pagi.”

Bagian 3: Adab dalam Menuntut Ilmu

  1. Adab Mendahului Ilmu

    • Dalam Islam, adab harus dipelajari sebelum ilmu.
    • Ilmu adalah sesuatu yang indah dan hanya bisa diraih oleh orang yang memiliki sikap, metode, dan cara yang baik.
  2. Membersihkan Hati

    • Hati harus dibersihkan dari sifat buruk seperti kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan iri hati.
    • Hati yang bersih akan memengaruhi seluruh tubuh untuk berbuat baik. Rasulullah bersabda: “Jika hati baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik.”
  3. Hindari Kompetisi dalam Hal Dunia

    • Penuntut ilmu tidak boleh berlomba-lomba dalam hal dunia atau berbangga atas pencapaian duniawi.
    • Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali memiliki kekayaan, namun mereka tidak pernah membanggakan dunia. Mereka fokus pada iman dan akhirat.

Bagian 4: Pandangan terhadap Dunia

  1. Tujuan Dunia

    • Dunia diberikan oleh Allah sebagai alat untuk meraih akhirat, bukan untuk bersenang-senang semata.
    • Utsman bin Affan berkata: “Allah memberikan kalian dunia agar kalian gunakan untuk mencari akhirat, bukan untuk bersandar dan menetap di dalamnya.”
  2. Dunia Itu Sementara

    • Dunia adalah sesuatu yang fana, sedangkan akhirat adalah kekal. Oleh karena itu, prioritaskan yang kekal daripada yang sementara.
    • Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai dari persiapan menuju akhirat.

Bagian 5: Fokus pada Akhirat

  1. Hidup Adalah Perjalanan Kembali

    • Hidup ini adalah perjalanan untuk kembali kepada Allah, bukan untuk menjauh dari-Nya.
    • Seperti hadis: “Hiduplah di dunia seperti orang asing atau musafir.”
  2. Nikmat di Surga Adalah Melihat Wajah Allah

    • Puncak kebahagiaan di surga bukanlah istana, bidadari, atau sungai madu, tetapi melihat wajah Allah.
    • Hanya pencinta sejati yang mengerti betapa berharganya melihat yang dicintai.
  3. Kekuatan Cinta dan Iman

    • Contoh: Bilal bin Rabah tetap istiqamah meski mendapatkan siksaan berat. Ia bertahan bukan karena harta atau kekuasaan, tetapi karena cinta dan iman kepada Allah.
    • Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang mencintai-Nya.

Bagian 6: Penutup

  1. Nasihat untuk Bersabar dan Berjuang

    • Istiqamah dalam menuntut ilmu dan beribadah adalah proses yang membutuhkan kesabaran.
    • Jangan putus asa meski belum sampai pada level yang diinginkan. Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
  2. Pesan Terakhir

    • Dunia adalah tempat persinggahan sementara, dan semua akan kembali kepada Allah.
    • Fokuskan hati dan amal untuk meraih ridha Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=8m22tz6SRxY 

Monday, May 6, 2024

Miliki 3 hal ini agar kita sukses dengan karir kita dimanapun tempat kita bekerja

_1. Adab_

Adab kepada Allah : Tidak melupakan hak Allah seperti sholat wajib
Adab kepada Sesama : berusaha tidak menyakiti perasaan dengan menjaga perkataan dan prilaku, tidak ghibah, tidak bohong, tidak fitnah, tidak adu domba dan lain lain.

_2. Ilmu_
Menjalankan amanah sesuai kapasitas dan keilmuan yang dimiliki serta berniat untuk berkembang menjadi lebih baik pada bidang yang kita geluti.

_3. Amanah_
Menjalankan tugas secara maksimal (profesional) dengan versi terbaik dari diri kita. Tidak menjadikan materi sebagai tolak ukur kinerja. Ketika materi menjadi tolak ukur kita dalam bekerja maka inovasi dan kreatifitas tidak akan muncul.

Tidak lupa juga, sebagai pengingat kita semua.
Niatkan dalam hati kita bahwa kita bekerja hanya untuk meraih ridho Allah, bukan Ridho manusia, agar hati kita tidak lelah, gaji yang kita terima menjadi berokah dan kehidupan kita diberkahi Allah.
aamiiin...

berikut link kajian yang saya gunakan pada tulisan di atas:
https://www.youtube.com/watch?v=X-cIlxmreNw

Semoga Bermanfaat.
Syukron ,
Jazakumullah Khairan

Wednesday, January 4, 2017

Delapan Macam rezeki dalam Islam


Assalamu'alaikum...
Semoga hari ini kita semua tetap diberi nikmat kesehatan dan umur yg berkah. Aamiin ya Rab.


*DELAPAN MACAM REZEKI*

*1.Rezeki Yang Telah Dijamin.*

_"Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya"_
(Q.S.11:6)

*2.Rezeki Karena Usaha.*

_"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya"_ (Q.S.53:39)

*3.Rezeki Karena Bersyukur.*

_"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu"_ (Q.S.14:7)

*4.Rezeki Karena Bertakwa.*

_"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya"_
(QS. At Thalaq :2)

*5.Rezeki Karena Istighfar.*

_"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta”_ (QS. 71 : 10-11)

*6.Rezeki Karena Menikah.*

_"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.”_(QS. an-Nur : 32)

*7.Rezeki Karena Anak.*

_"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”_(QS. al-Isra 31)

*8.Rezeki Karena Sedekah.*

_"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak"_ (QS. Al Baqarah 245)

Sunday, September 15, 2013

KELEBIHAN ORANG YANG SELALU MELAKSANAKAN SHOLAT


1. Diberi nur pada wajah.
2. Dikurniakan ALLAH SWT akal yg cerdas & otak yang pintar.
3. Hati bercahaya & tenang jiwa.
4. Sejahtera keluarga (sakinah, mawaddah, warahmah)
5. Di padang Masyhar tidak kepanasan malah sebaliknya
6. Dapat rahmat & hidayah dari ALLAH SWT
7.Doanya sering di kabulkan
8. Diberatkan timbangan amal & menerima buku catatan amal melalui tangan kanan di akhirat kelak (baik).
9. Dipermudahkan jalan menuju ke syurga Allah.
10.Melintasi jembatan sirotol mustakim di permudah

(Al-Imam Ibnu Hajar Al- Asqalani)

Monday, March 11, 2013

Keutamaan Shalat Tahajjud

tahajjud, shalat tahajjud, shalat malam

Pengertian Shalat Tahajjud
Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari sesudah mengerjakan shalat Isya sampai terbitnya fajar dan sesudah bangun dari tidur,
Hukum Shalat Tahajjud adalah Sunnat Mu’akkad, Yaitu : Sunnat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, karenanya maka Rasul SAW sangat menganjurkan kepada para umatnya untuk senantiasa mengerjakan shalat Tahajjud. 
Shalat Tahajjud banyak mengandung keutamaan dan keistimewaan yang besar sekali. Beberapa Dalil yang menyinggung keutamaan bangun pada dua pertiga malam shalat tahajjud adalah Surat AL-MUZZAMMIL ayat 1 – 20
Berikut salah Satu petikan dari surat AL-MUZZAMMIL AYAT 20
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang…..…Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Surat Ini menjelaskan bagaimana Allah memberi kita waktu - waktu yang kiranya paling tepat untuk memohon doa. 
Rasul SAW pun bersabda :
Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada TUHAN kalian, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan ” 
(HR.Imam Tarmidji & Ahmad)


Keutamaan Shalat Tahajjud
Keutamaan yang pertama
Bagi orang yang mau mengerjakan shalat Tahajjud, ia akan mendapat pahala shalat yang paling utama setelah shalat fardhu. Sebagaiman yang telah dijelaskan di dalam hadist Nabi SAW yang artinya :
Rasullullah SAW pernah ditanya: “Shalat apakah yang paling utama setelah sahalat fardhu”.
Rasul Menjawab : “Shalat tengah malam (lail)”.
(HR. Jama’ah)
Keutamaan yang kedua
Akan menjadi orang paling dekat dengan Allah SWT. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam sabda Nabi. SAW yang artinya :
Allah paling dekat dengan hamba-Nya pada akhir pertengahan malam. Oleh karena itu, jika kamu sanggup untuk menjadi orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka kerjakanlah”. 
(HR.Imam Tarmidzi)

Keutamaan yang ketiga
Akan menjadi orang yang senantiasa selalu dicintai Allah. Sebagaimana sabda Nabi SAW, yang artinya :
Puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Daud dan shalat yang paling Allah cintai adalah shalat Daud. Beliau (Nabi Daud AS) tidur setengah malam dan bangun untuk shalat sepertiga malamnya, lalu tidur lagi sereenam malamnya. Beliau juga biasa sehari puasa sehari berbuka 
(HR. Jama’ah)


Adapun keutamaan shalat Tahajud yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : 
Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.

Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.



Thursday, February 28, 2013

Shalat Witir


Pengertian Shala Witir
shalat, shalat witir, witir

Shalat Witir adalah shalat sunnah yang bilangan rakaatnya ganjil. Mengenai bilangan rakaatnya, paling sedikit adalah satu rakaat dan paling banyak adalah sebelas rakaat. Jumlah sebelas rakaat itu telah cukup dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dinyatakan oleh A’isyah ra 
Tidaklah pernah Nabi SAW shalat malam (witir) melebihi sebelas rakaat“. 

Hukum Shalat Witir

Walaupun hukum shalat Witir adalah sunnah muakkadah, namun sangat di anjurkan untuk dikerjakan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : 
Hai para pencita-cita Al-Qur’an, kerjakanlah shalat Witir. Sebab Allah itu tunggal (Esa). Dia suka kepada bilangan witir (ganjil).

Waktu Shalat Witir

Adapun waktu shalat Witir adalah sesudah shalat Isya’ sampai terbit fajar. Cara mengerjakannya adalah dua rakaat satu salam, kemudian terakhir satu rakaat dengan satu salam dan bila dikerjakan tiga rakaat, maka tidak usah tasyahud awal supaya tidak menyerupai shalat Maghrib.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya :
Telah berkata ‘Aisyah : adalah Rasulullah SAW pernah shalat Witir tiga rakaat yang ia tidak selingi apa-apa (tasyahud) diantaranya“. 
(HR. Ahmad)


Bila melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat.

Kalau seseorang merasa khawatir akan tidak melaksanakan salat witir di tengah atau akhir malam, maka ia sebaiknya melaksanakannya setelah salat Isya', atau setelah salat Tarawih pada bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda,
"Barangsiapa mengira tidak akan bangun malam, maka hendaknya ia berwitir pada awal malam, barangsiapa merasa yakin bisa bangun malam, maka hendaknya ia berwitir di akhir malam karena salat akhir malam dihadiri malaikat
(H.R. Muslim, Ahmad, Tirmizi).


Sholat witir tidak disunnahkan berjamaah, kecuali bersama dengan sholat tarawih. Surat yang disunnahkan dibaca dalam witir 3 rakaat adalah "Sabbih-isma Rabiika", Al-Kafiruun dan rakaat ketiga al-Ikhlas dan Muawwidzatain.

Sedangkan apabila shalat tarawih pada bulan Ramadhan sampai pada tanggal 15 Ramadhan sampai seterusnya, maka pada rakaat Witir yang terakhir yaitu ketika bangun dari ruku’, di sunnatkan membaca do’a qunut.

Para ulama berbeda pendapat mengenai seseorang yang yang berwitir pada awal malam lalu tidur dan bangun di akhir malam dan melakukan sholat. Sebagian ulama berpendapat bahwa batal witir yang telah dilakukannya pada awal malam dan di akhir malam ia menambahkan satu rakaat pada sholat witirnya, karena ada hadist yang mengatakan "tidak ada witir dua kali dalam semalam". Witir artinya ganjil, kalau ganjil dilakukan dua kali menjadi genap dan tidak witir lagi, maka ditambah satu rakaat agar tetap witir. Redaksi hadist tersebut sbb:

Dari Qais bin Thalk berkata suatu hari aku kedatangan ayahnya Thalq bin Ali di hari Ramadhan, lalu beliau bersama kita hingga malam dan sholat (tarawih) bersama kita dan berwitir juga. Lalu beliau pulang ke kampungnya dan mengimam sholat lagi dengan penduduk kampung hingga sampailah sholat witir, lalu beliau meminta seseorang untuk mengimami sholat witir "berwitirlah bersama makmum" aku mendengar Rauslullah s.a.w. bersabda "Tidak ada witir dua kali dalam semalam"
(H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ahmad dll)



Monday, February 25, 2013

Ujub, Sum'ah dan Riya'

Pengertian Ujub
ujub, bangga diri

Ujub dalam bahasa Indonesia lebih dekat dengan kata BANGGA

Sufyan Ats-Tsauri rohimahumulloh, meringkas definisi ujub sebagai berikut:
Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri sehingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi perkara haram lebih suci jiwanya ketimbang dirinya

Imam Syafi’i rohimahumulloh berkata :
Baransgsiapa yang mengangkat-angkat diri secara berlebihan, niscaya Allah akan menjatuhkan martabatnya

*Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan menganggapnya bagai angin lalu.

Nabi Muhammad SAW telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:
Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya” 
(HR. Bukhari)

Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” 
Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sendal yang dipakainya juga bagus?” 
Rasulullah menjawab:
Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. 
(HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) 

*awal hadits berbunyi: 
Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya"

Pengertian Sum'ah
sum'ah

Pengertian sum’ah secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya (yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi) kepada manusia lain agar dirinya mendapatkan kedudukan atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.


Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia… 
(QS. Al-Baqarah : 264)

Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:
Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.
(HR. Bukhari)

*Penjelasan hadits diatas adalah, diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Na’udzubillah min dzalik.



Pengertian Riya'
riya

Secara syar’i, para ulama berbeda pendapat dalam memerikan definisi riya’, namun intinya sama, yakni seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun ia lakukan bukan karena Allah melainkan tujuan dunia atau dengan kata lain melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga orang lain memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan tentang kekhawatirannya atas umat ini terhadap riya yang akan menimpa mereka. Riya yang tidak lain merupakan syirik kecil. 
Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” 

Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Riya.

Allah akan berfirman pada hari kiamat nanti ketika Ia memberi ganjaran amal perbuatan hamba-Nya, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian berlaku riya terhadapnya.’ Lihat Apakah kalian memperoleh balasan dari mereka?” 
(HR. Ahmad)

Sunday, February 24, 2013

Ta'aruf YES! Pacaran NO!

taaruf

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Perbedaan taaruf dengan pacaran

Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second, tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.

Proses taaruf

Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi, taaruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

Tujuan taaruf

Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.

Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus dalam kasus taaruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.

Manfaat Taaruf
Selain urusan melihat fisik, taaruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syariat Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date dan seterusnya dengan menggunakan alasan taaruf. Janganlah ta`aruf menjadi pacaran, sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami-istri ini.

Thursday, February 21, 2013

Mahabbah

mahabbah
Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al mahabbah dapat pula berarti al wadud yakni yang sangat kasih atau penyayang.

Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.
Kata mahabbah selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawwuf yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhaniah pada Tuhan.

Pengertian mahabbah dari segi tasawwuf ini lebih lanjut dikemukakan al Qusyairi sebagai berikut: “almahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakkan) Allah swt oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah swt”.

Harun Nasution mengatakan mahabbah adalah cinta yang dimaksud adalah cinta kepada Tuhan, antara lain sebagai berikut:

a. memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
b. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c. Mengosongkan hati dari segala – galanya kecuali dari yang dikasihi yaitu Tuhan.

Dilihat dari tingkatannya, mahabbah sebagai dikemukakan al-Sarraj sebagai dikutip Harun Nasution ada tiga macam yaitu:
1. mahabbah orang biasa yaitu selalu mengingat Allah dengan zikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.
2. mahabbah orang shidiq, yaitu cinta orang yang kenal pada Tuhan, kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan lain-lain.
3. mahabbah orang yang arif adalah cinta yang tahu betul kepada Tuhan.
Dari uraian tersebut disimpulkan mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati, sehingga sifat-sifat yang dicintai (Tuhan) masuk ke dalam diri yang dicintai.

2. Tujuan Mahabbah

Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dirasakan oleh jiwa.
Selain itu juga mahabbah merupakan hal keadaan mental seperti senang, perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya. Mahabbah berlainan dengan maqam, hal bersifat sementara, datang dan pergi bagi para sufi dalam perjalanan mendekatkan diri pada Allah swt.

3. Kedudukan Mahabbah

Al mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam kedudukan maupun pengertiannya. Ma’rifah adalah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata hati (alQalb), maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta(roh). Rasa cinta itu tumbuh karena pengetahuan dan pengenalan kepada Tuhan sudah sangat jelas mendalam, sehingga yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Oleh karena itu, menurut Al Ghazali mahabbah itu manifestasi dari ma’rifah kepada Tuhan. Dengan demikian kedudukan mahabbah lebih tinggi dari ma’rifah.

B. Alat Untuk Mencapai Mahabbah

Para ahli tasawuf mengungkapkan alat untuk mencapai mahabbah yaitu menggunakan pendekatan psikologi melihat adanya potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia. Harun Nasution mengatakan alat untuk memperoleh ma’rifah oleh sufi disebut sir. Harun Nasution mengutip pendapat al-Qusyairi ada 3 alat yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan yaitu:

1. Al-Qalb, yaitu hati sanubari, sebagai alat mengetahui sifat-sifat Tuhan.
2. Roh, yaitu alat untuk mencintai Tuhan.
3. Sir, yaitu alat untuk melihat Tuhan.

Sir lebih halus daripada roh, dan roh lebih halus dari qolb. Kelihatannya sir bertempat di roh, dan roh bertempat di qolb, dan sir timbul dan dapat menerima iluminasi dari Allah, kalau qolb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan kosong-sekosongnya, tidak berisi apapun.

Dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa alat untuk mencintai Tuhan adalah roh, yaitu roh yang sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat, serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu, melainkan hanya berisi oleh cinta kepada Tuhan.

Roh yang digunakan untuk mencintai Tuhan itu sebenarnya telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia sejak dalam kandungan ketika berumur empat bulan, dengan demikian alat untuk mencintai Tuhan sebenarnya telah diberikan Tuhan. Manusia tidak mengetahui sebenarnya hakikat roh itu, yang mengetahui hanyalah Tuhan. Allah berfirman:

Artinya: mereka itu bertanya kepada Engkau (Muhammad) tentang roh, katakanlah bahwa roh itu urusan Tuhan, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali. (QS. Al-isra’: 85).

Selanjutnya Rasulullah saw juga telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim yang artinya:

“sesungguhnya manusia dilakukan penciptaaannya dalam kandungan ibunya, selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah(segumpal darah), kemudian menjadi alaqah(segumpal daging) pada waktu juga 40 hari, kemudian dijadikan mudghah (segumpal daging yang telah berbentuk) pada waktu 40 hari juga, kemudian Allah mengutus malaikat untuk menghembuskan roh kepadanya”

C. Tokoh Yang Mengembangkan Mahabbah

Tokoh yang memperkenalkan mahabbah adalah Rabiah al Adawiyah. Ia adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari Basrah, di Irak. Ia hidup antara tahun 713-801 M, ada juga yang menyebutkan ia meninggal pada tahun 185/796 M. Menurut riwayatnya ia adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan.

Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertaubat, menjauhi hidup duniawi dan menolak bantuan material yang diberikan orang kepadanya. Selain itu juga ia betul – betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Allah swt dan selalu menolak lamaran pria salih.

Diantara doa dari Rabiatul Adawiyah : “Ya Rabbi, bila aku menyembah-Mu karena takut akan neraka bakarlah diriku di dalamnya. Bila aku menyembah-Mu karena harap akan syurga jauhkanlah aku dari sana. Namun jika aku menyembah-Mu hanya demi Engkau maka janganlah Kau tutup Keindahan Abadi-Mu”.

D. Mahabbah Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits

Ada banyak ayat – ayat dalam alqur’an menggambarkan bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat saling bercinta. Diantaranya :

Artinya: “jika kamu cinta kepada Allah, maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu”. (QS. Al-imran: 30).

Artinya:”Allah akan mendatangkan suatu ummat yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya”. (QS. Al-Maidah: 54).

Di dalam hadits juga disebutkan: 

ﻮﻻﻴﺰﺍﻞﻋﺒﺩﻯﻴﺘﻘﺮﺐﺇﻠﻲﺒﺎﻟﻨﻮﺍﻔﻞﺤﺘﻰﺍﺤﺒﻪﻮﻣﻦﺍﺤﺒﺒﺘﻪﻜﻨﺖﻟﻪﺳﻣﻌﺎﻮﺑﺼﺮﺍﻮﻴﺪﺍ
Artinya:”hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga Aku cinta kepada-Nya. Orang yang Ku cintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku”.

Ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai, karena alat untuk mencintai Tuhan, yaitu roh yang berasal dari Tuhan. Roh Tuhan bersatu dan roh yang ada pada manusia anugerah Tuhan bersatu dan terjadilah mahabbah. Untuk mencapai keadaan tersebut dilakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sumber